Hanya terpikir sesuatu. Apakah benar disini hanya hapalan saja isinya? Entah kenapa darahku mendidih ketika mendengar bahwa farmasi itu hapalan, bagiku sebenarnya semua menuntut pemahaman dan banyak membaca, bukan hapal.
Aku kadang kesal sendiri dengan perkataan temanku bahwa “terlalu banyak hapalan disini.” Well, pada kenyataannya kita tidak dituntut hapal. Tapi tahu dan paham. Bukankah sebenarnya kita yang menuntut diri untuk hapal?
Ah, tapi aku sering menemukan diriku mengangguk untuk menyetujui perkataannya walau yang kurasakan tidak begitu. Kupikir juga, ada yang salah dengan pendidikan di Indonesia jika semua mahasiswa berpikir serupa. Satu lagi. Aku melihat kecendrungan mahasiswa yang meminta untuk disuapi. Apakah ini perasaanku saja? Seringkali aku mendengar protes jika dosen mengeluarkan hal yang ada diluar kelas, tapi apakah salah dosen? Kurasa tidak, kupikir semua memang ada kaitannya dan mungkin dosen terseut mengeluarkan pertanyaan itu karena memang berkaitan. Walaupun perlu diingat dosen tidak selalu benar.
Aku juga kesal jika ada yang berkata tentang sesuatu tetapi ketika kutanya lingkup dari tiap kata yang digunakan jawabannya “entahlah, mungkin kau tanya saja pada dia yang anak ******, harusnya dia mengerti.”
Apakah ini juga suatu bentuk ‘ignorance’? Hey, ayolah. kau tadi berkata sesuatu tapi lingkup yang kau bicarakan sendiri kau tidak tahu? Apa kau benar-benar mengerti tentang apa yang kau bicarakan? Aku tidak akan sekesal ini jika bentuknya pertanyaan untuk refleksi diri. Tapi ini pernyataan, kau harusnya tahu.
Mengesalkan.
Semua ini membuatku kesal.
sedikit review dan cerita diri
Langit dan Bumi Sahabat Kami
Sebenarnya saya tidak tahu apa yang hendak saya tulis saat ini. Rasanya hanya ingin saja membuka laptop dan menulis sesuatu. Ah, saya berpikir untuk menulis review atas apa saja yang sudah saya baca. Bukan apa-apa sih, hanya saja rasanya saya harus melakukan itu agar otak saya terlatih untuk berpikir. Saya pikir otak ini sudah lama tidak digunakan dan itu menjadi sumber kebodohan terbesar saya selain kekurangan data. Dan kekurangan data, eh? Apakah saya juga kurang ingin tahu?
Saya ingat ide ini dulu pernah muncul sebelumnya, bahkan saya tidak ingat kapan. Mungkin saat SMA. Tiba-tiba saya jadi ingat ide ini saat membaca buku Nh. Dini yang berjudul Langit dan Bumi Sahabat Kami. Jika disuruh menilai buku itu, dapat kubilang buku itu cukup ringan untuk dibaca. Bahasanya tidak aneh-aneh. Jumlah halamannya pun hanya sekitar seratus tiga puluh. Ya, ya, saya memang alergi dengan buku tebal. Tapi yang saya senang dari buku ini adalah pelajaran yang terkandung di dalamnya terutama pelajaran untuk hidup sederhana.
Nilai-nilai yang dapat diambil selain tentang hidup sederhana adalah saling memaafkan dan saling memberi satu sama lain. Hal yang terdapat dalam cerita itu menurutku masih terjadi sampai sekarang. Tentang manusia penjilat, yang ingin terlihat baik di mata orang lain terutama atasan. Yah, sampai kapanpun mungkin masalah itu akan selalu ada sih. Saya tahu memang banyak orang sangat peduli akan citranya untuk melicinkan usahanya mendapatkan sesuatu, tapi tidak perlu sampai mengorbankan orang lain dan berpura-pura kan?
Melalui buku ini juga saya diingatkan untuk tetap melakukan hal yang baik walau keadaannya seperti apapun. Jangan biarkan keadaan membuatmu mengubah diri kearah yang lebih buruk. Mungkin itu saja dulu sih. Nanti mungkin saya tambahkan lagi. Mungkin.
Perahu Kertas
Jadi, kemarin saya membaca salah satu karya Dee. Perahu Kertas, karya ke-tiga Dee yang saya baca setelah Madre dan Filosofi Kopi. Jujur saja di kedua karya sebelumnya beberapa bagian saya belum mampu mencerna maksudnya, walau kata-kata yang digunakan sederhana. Ah, sial. Saya merasa bodoh.
Untuk Perahu Kertas sendiri, bahasanya ringan dan enak untuk dibaca. Untuk yang terkandung, saya hanya bisa menangkap sedikit pelajaran. Ya, mungkin karya yang ini fokusnya memang bukan di pemberian pembelajaran yang banyak. Bagi saya, buku ini mengajarkan saya untuk tetap memegang mimpi saya, namun tetap realistis. Bahwa untuk mencapai mimpi itu, kita tak hanya memiliki jalur biasa, kita dapat memutar. Saat ini memang keadaan itu sih yang sedang cocok, jadi mungkin hanya itu yang nyantol di kepala saya.
Kenapa saya harus realistis? Saya bukan Keenan dan Kugy. Mereka berdua bertalenta, tanpa berniat mengerjakan sesuatu, mereka tetap dapat melakukan pekerjaan itu. Berbeda dengan saya yang apabila tidak ingin, tidak niat, tidak minat ya hasilnya hancur. Keenan dengan mudah mendapat IP 3.7, saya tidak mungkin bisa begitu. Saya akan mengambil jalur Kugy, hanya saja mungkin pekerjaan yang saya dapat tidak akan saya telantarkan. Saya akan tetap berusaha mendapatkan mimpi dan pekerjaan tersebut. Bodoh? Biarlah. Hahaha
Surat Chairil Anwar kepada Jassin
Surat pertama di halaman sembilan puluh tujuh edisi lama Aku Ini Binatang Jalang. Ketika membacanya, muncul perasaan senasib dengan Chairil. Mungkin karena saya sendiri belum matang dan belum punya identitas. Selalu berubah. Saya pun merasa benar-benar kesal terhadap diri sendiri. Tidak mengerti keinginan sendiri. Sulit. Apa yang dilakukan Chairil dengan perasaan itu? Bagaimana ia mengatasinya? Saya selalu bertanya-tanya. Apa saya bisa melewati ini seperti Chairil melewatinya? Ia mencapai kematangannya, kata orang-orang terlihat pada sajaknya. Apa saya bisa mencapai kematangan tersebut?
Sedikit Bercerita
Jujur saja saya ingin bisa menulis. Tetapi rasanya saya selalu tidak punya bahan untuk ditulis. Dipikir-pikir juga menulis saya pas-pasan. Jadi ingat kata teman, saat menulis yang penting itu kuantitas, kualitas itu belakangan. Benarkah? Saya malah jadi berpikir kuantitas dan kualitas disini yang dimaksud apa sebenarnya? Ketika menulis, apa saja yang harus ada? Dan… bagaimana caranya memulai dan menyelesaikan sesuatu?
Hanya rasa
Seringkali kita menemukan suatu kalimat/slogan yang sangat kita setujui. Apakah kita saat itu benar-benar paham?
Sebagai salah seorang yang juga melakukan ‘share’ slogan/kalimat ini, kadang aku merasa malu. Sudahkah aku melakukannya sendiri?
Aku lebih sering menemukan ‘tidak’ sebagai jawabannya. Aku tidak tahu bagaimana dengan orang-orang. Sebenarnya, yang aku pedulikan saat itu adalah menularkan semangat dari kalimat dan slogan itu pada orang lain. Tapi kemudian… aku berpikir bahwa aku juga harus bertindak; sesuai dengan yang aku percayai. Lalu aku disadarkan kembali akan satu hal, bahwa mungkin akan ada makna berbeda yang diambil setiap orang.
Karena pemikiran manusia itu terbatas (oleh pengalaman dan pengetahuan, mungkin), untuk itulah kita butuh diskusi. Diskusi ini diperlukan dalam rangka meluruskan makna dan melihat suatu permasalahan dari sisi yang berbeda-beda yang kita seringkali buta akan sisi-sisi lain tersebut.
Ah, sekali lagi aku juga hanya berbicara disini. Aku tidak tahu kapan aku bisa benar-benar bersuara, berani dan tanpa ragu. Aku sadar, mungkin aku adalah jenis orang yang takut dan alergi akan kritik. Namun hal itu nyatanya membuatku makin jatuh pada ketidaktahuan. Aku ingin berubah.
Hanya pikiran random biasa
Sekali, aku melihat diriku tidak merasakan apa-apa. Kosong, bukan damai. Tidak ada rasa sedih, tidak ada rasa ingin berontak, tidak ada rasa marah, tidak ada bahagia pula. Aku menerima apapun tanpa rasa apapun. Tapi kemudian aku bertanya, apakah ada yang salah? Tapi bukankah kalau begini lebih baik?
Jujur saja sampai sekarang aku tidak tahu jawabannya, dan belakangan ini rasa semacam itu tidak pernah kembali lagi. Dulu ketika aku masih menjadi mahasiswa di Depok, selalu ada pikiran bahwa aku menginginkan tantangan. Kapan tempat ini memberi tantangan? Mungkin tantangan ada, hanya saja aku yang tidak menanggapinya. Mahasiswa dengan kemampuan akademik pas-pasan sepertiku ini… kupikir sombong sekali dulu merasa tidak ada tantangan dan pada akhirnya tidak berusaha dengan baik. Tidak hanya di akademik, tapi pada soft-skill dan interaksi sosialku juga rendah. Buruk. Aku tidak tahu apa mauku, bahkan hingga sekarang. Hingga kesempatan SNMPTN-ku habis tahun dua ribu dua belas lalu, ketika aku, tetap mahasiswa, tapi kini di salah satu institusi pendidikan di Bandung.
Apa yang kulakukan disini? Kulihat kembali, hanya sedikit perbedaan. Kali ini aku berusaha berinteraksi dengan orang lain melalui unit kemahasiswaan dan kabinet kampus. Namun sepertinya hasilnya tidak begitu bagus. Aku bahkan membuang kesempatan bergabung dengan himpunan jurusanku, hanya karena alasan sepele; kegiatan menginap. Aku suka memiliki teman, tetapi aku tidak begitu suka dengan keramaian. Pikiran bahwa aku harus berinteraksi dengan banyak orang walau hanya satu-dua malam itu membuatku ngeri duluan. Dan dengan lancangnya bilang bahwa aku tak tertarik mengikuti himpunan pada seniorku. Biarpun mungkin saat itu pernyataan itu sedikit benar, saat itu aku kecewa pada divisi magang-ku yang sedikit kegiatannya; atau mungkin itu salahku karena tidak hadir pada pertemuan pertama? Entahlah. Mungkin lebih aman apabila aku menyalahkan diriku sendiri, karena pada kenyataannya seringkali memang salahku.
Sekarang, aku pun masih tidak berusaha memperbaiki akademik-ku. Aku tidak pernah belajar; membaca saja tidak. Aku selalu tidur di kelas atau melamunkan hal lain. Kadang pikiranku kubiarkan kosong dan aku hanya menatap jendela tanpa makna, hanya satu yang dapat ku identifikasi; ada rasa ingin keluar. Entah keluar dari mana, entah kemana; aku sendiri masih tidak tahu. Aku benar-benar bodoh.
Seringkali, aku menemukan diriku ingin berada di tengah masyarakat. Aku ingin menjadi masyarakat itu sendiri, kenyataannya aku memang bagian dari masyarakat tetapi aku tidak mengenal mereka. Sama sekali. Aku ingin melihat kondisi masyarakat sekitarku, melakukan survey mengenai kehidupan mereka. Sedikit banyak juga aku haus akan interaksi sederhana semacam sapaan, karena kurasa belakangan ini aku berinteraksi hanya jika ada perlu; bahkan dengan teman-temanku.
Ah, teman. Kuanggap mereka teman. Aku tidak tahu mereka menganggap aku apa. Tapi kurasa itu bukan masalahnya sekarang.
Aku ingin berjalan-jalan di perkampungan, menonton anak-anak bermain bola dan layangan. Melihat ibu-ibu menyapu teras rumah mereka. Melihat hal-hal biasa yang terjadi sehari-hari.
Terlepas dari itu, aku juga ingin bisa dekat dengan alam. Karena kurasa aku jauh dari Tuhan. Aku, manusia kecil ini, ingin sekali bisa tidur diatas rerumputan. Aku ingin sekali bisa memandang langit saat aku menengadah. Aku ingin bisa menatap alam dari ketinggian. Aku ingin bisa merasakan udara yang bebas polusi, suara maupun partikel. Aku ingin mendengar dan merasakan hujan. Aku ingin merendam kakiku di sungai. Aku ingin menatap air dalam bentuk sungai, air terjun, maupun danau. Aku ingin menenangkan diri dengan itu semua. Aku ingin menemukan kembali Tuhan di alam (hingga kemudian menemukan Tuhan di setiap sudut) dan jatuh cinta lagi kepada-Nya. Aku ingin membuka mataku yang sudah lama tertutup. Aku ingin menemukan arahku. Kehidupan di kota ini sudah lama mebuatku penat, di kota manapun sama saja.
Aku tersadar akan satu hal, mungkin saat ini sesungguhnya aku sedang mencari pelarian. Suatu dimensi untuk berpikir sejenak agar aku bisa kembali menghadapi kenyataan. Mungkin, aku sendiri masih tidak tahu dan tidak paham.
title? the hell if i care!
well~
just wanna make a confession
I KNOW NOTHING AT ALL
I KNOW NOTHING
AND THAT’S WHY I WANT TO KNOW
I WANNA KEEP SEARCHING THE REASON TO MY EXISTENCE
I’LL FIND OUT WHAT I GOTTA DO WITH MY LIFE
SO YEAH I KNOW NOTHING
I KNOW NOTHING ABOUT THE WORLD
I KNOW NOTHING ABOUT MYSELF
hell~ why the heck i’m doing this. my words are just shit.
frustrating.
to God, wherever You might be
God,
this is so bad
i’m lost
all over again
You’ll find me, right?
You’ll pull me out of this darkness, right?
please let me know what to do
the feelings… it comes back
i am just a mere human
even though i’d always tell myself that i don’t need anyone to survive this damned world
i still can’t escape this lonely feeling
i need a friend, should i say
but friends, they’ll eventually leave
and it hurts, i don’t wanna get hurt
so i drive them away by saying rude things
i feel like i’m so evil, i hate myself for being like that
but i can’t help it
i can’t let myself being too close to anyone
i just know that i’m gonna be disappointed and hurt in the end
again, in the end… there’s someone though…
i should’ve just known He was and always will be there
i shouldn’t feel lonely
but somehow it’s hard
i’ve been living in the dark for long
i’m afraid i can’t go back to the light, to Him
You’re always there, aren’t You?
why do i feel this loneliness?
what’s wrong with me?
just another wip and random drawing
Minat, Hobi, Cita-cita, Jurusan?
Duh, sebenarnya kalau ditanya minat, hobi, cita-cita, aku ngaak pernah tau mau jawab apa. Dulu waktu TK, cita-citanya mainstream: jadi insinyur. Waktu SD sekitar awal kelas empat cita-citanya jadi astronot, peneliti, dan pelukis. Mikirnya sih waktu itu pengen neliti batuan di bulan terus ngelukis luar angkasa lol *masih belum ngerti ada hal bernama gravitasi*
Eh, tiba-tiba ada tugas bahasa Indonesia, bikin surat lamaran pekerjaan. Saat itulah kepikiran pengen masuk ITB, mau masuk teknik elektro atau mesin supaya bisa bikin robot. Pernah pengen jadi arsitek juga sih, tapi rada sipil juga soalnya pengen bikin jalan lol
Waktu SMP, kayaknya nggak kepikiran apa-apa sih. Mungkin sedikit pengen jadi dubes. wkwkwkwk *ngaco*
Waktu SMA, pengennya bikin robot tapi sama programmer-nya juga. Tapi gara-gara kebawa orang, daftarnya kedokteran. Ya, selain itu nggak boleh masuk mesin dan elektro sih sama bapak. Padahal sama ibu itu boleh. Tapi, terus ragu, soalnya kayaknya yang masuk STEI itu pasti otaknya rada-rada-jenius banget. Orang yang kayak gue sih, masuk sana aja belom tentu =A=
Eh, sekarang nyasarnya di farmasi. Nggak paham deh.
Tapi tiap kali dihadapin sama ujian dan tugas, sekarang tuh kerjaannya menghindar aja kayak apaan. Kapan seriusnyaaaaaa =A=
Orang belajar, nugas, ngejurnal, apalah, gw nonton anime baca manga dan cari kerjaan lain yang bisa ngedistraksi pikiran dari belajar dkk itu. Terus belakangan ini, pengen lagi jadi programmer, kalo bikin robot sih, dari dulu juga masih pengen. wkwkwk
Dulu kayaknya sempet mikir juga buat jadi kepala sekolah bahkan menteri pendidikan, soalnya pengen bisa ngerubah kurikulum. Pengen nambahin mata pelajaran pilihan yang bisa diambil biar murid ada wadah pengembangan minat. Sejauh ini, sekolah yang dimasukin pengembangan minatnya kebanyakan di seni, bagus sih. Cuma pengen ada yang teknologi juga. Sebenarnya mungkin bisa sih, buat yang udah belajar otodidak mungkin bahkan bisa buat karya tulis tentang teknologi, tapi buat yang mau mulai dan bingung mau mulai darimana itu yang dirasa perlu buat dikasih wadah dan pembimbing. hehehe
Sekarang sih, lagi pengen belajar alat musik sama ilustrasi juga seni rupa macam melukis. Pengen juga ngembangin nulis. Tapi kebanyakan pengen nih, sampe yang di lakuin sedikit.
Buat jurusan yang dijalani sekarang, semoga saya nggak makin jauh dari anda yak =A= semoga saya bisa dapet fun-nya, sejauh ini belum ada fun-nya rasanya. Cuma kalau dosennya enak aja ngajarnya XD, dan yang enak itu jarang wkwkwk
Dokumentasi
Hai halo, blog tempat curcolan random saya!
Jadi hari ini saya mau cerita beberapa pengalaman setelah jadi panitia dokumentasi di 3 event,
1. konser
2. arak-arakan wisuda
3. konser (lagi)
Dari dulu pengen bisa fotografi, tapi gak pernah ngerti harus mulai darimana dan gimana. Nggak tau foto yang bagus itu gimana, jadi pas jadi panitia akhirnya ambil aja deh yang pengen di ambil. wkwkwkwk. Karena masih awam, jadinya ya, mainannya cuma di zoom. Nggak paham soalnya tombol-tombol pilihan lain buat apa. Misal nih, ada yang namanya ISO, nggak ngerti yang bagus itu makin kecil apa makin besar, jadinya ragu mau ubah-ubah. Waktu pertama kali dokumentasi konser itu pake tripod, hehe. Tripodnya keren, bisa diputer-puter terus ditinggiin. Jadi waktu ngambil dari tempat tinggi nggak perlu angkat tripodnya juga. Cuma rada kagok juga ternyata.
Yang kedua itu waktu jadi dokumentasi arak-arakan. Kali ini pakenya sih kamera digital, sebelumnya pake DSLR (sebenernya D-nya juga digital sih .__.) . Nah~ Baterainya abis di tengah jalan, susah ya ambil foto sambil jalan-jalan dan ngambil foto orang gerak itu =A=
Yang ketiga baru aja sih~ Masih awam biarpun udah tiga kali nge-dokum. Yang berkutat di fotografi itu berapa lama sih belajarnya, sampe bisa ngehasilin gambar-gambar bagus =A=
Hari ini tapi agak beda, masalahnya satu kamera yang tadi aku pakai tiba-tiba error. Aku nggak ngerti apa-apa sebagai orang awam, sampai pulang tadi kameranya tiap dinyalain masih aja “Try to turn it off and on, or re-install the battery.” =A= Total kamera yang kupegang sebelum ini lima tapi belum pernah kena masalah begini. aaaaaaa, nggak ngerti. semoga bisa bangun lagi deh kamera itu =A=
Senang juga rasanya ngedokum konser, apalagi kalau motret konduktor. Sejauh ini yang paling menarik itu konduktor, soalnya gesturnya ada yang lucu, ada ekspresinya juga, macem-macem deh; bahkan kayak ada yang mau loncat. Selain konduktor itu yang pasti pemainnya sih, apalagi kalo yang lagi solo atau benar-benar tenggelam dalam permainannya sendiri. Yang solo ini menyenangkan buat di foto soalnya sendirian, bisa dipotret di pojok atau tengah. hehe. Kalau pemain yang lain… Pengennya waktu mainnya pakai ekspresi. Pas difoto itu entah kenapa rasanya jadi bagus dan pengen ketawa.


